October 10, 2006

Trik Belanja Hemat a’la Anak Kost

Punya penghasilan sendiri, bukan berarti bisa belanja seenaknya. Apalagi kita anak kost, jauh dari ortu, musti punya tabungan tuch… salah-salah kita ngak bisa makan di akhir bulan n musti ngutangn ama temen se-kost gara-gara duit gaji abis buat belanja ngak karuan…. kan malu. Makanya simak tips hemat berikut yah.

emoticonTrik Belanja Hemat a’la Anak Kost :

  • Setiap abis gajian, sisihkan terlebih dahulu sebagian gaji kita untuk ditabung, ini harus di lakukan di awal bulan untuk ”memaksakan” diri kita untuk menabung.
  • Ikutan arisan, nah ini buat yang ngak bisa nabung coz pengeluarannya banyak alias boros. Sebenernya dengan ikutan arisan, kita udah nabung, cuman klo arisan ngak bisa diambil semau kita.
  • Pisahkan rekening untuk keperluan sehari-hari dengan rekening saving, emang keliatan ribet sieh… tapi udah terbukti cukup efektif loh… jadi kita musti sabar ngeluangin waktu transfer sebagian duit ke rekening saving.
  • Pilih rekening saving yang biaya administrasi bulanannya kecil, untuk rekening keperluan sehari-hari, pilih-pilih ATM yang baik yah… maksudnya klo bisa jangan gunakan ATM bersama, gunakan sesuai dengan BANK-nya, lumayan kan hemat 3000 perak sekali transaksi.
  • Catering, ini lumayan ngebatasin pengeluaran, coz kita udah nyisihin duit buat makan 1 bulan ke depan, klo kebutuhan beras palingan kan bisa di kira-kira. Minimal kita kebiasa ngak jajan di luar… kan udah ada catering
  • Jangan mudik mulu…. waaahhh nie ngak bisa tuh.. apalagi buat V, pasti
  • Catat semua keperluan sehari-hari sebelum belanja, prioritaskan untuk belanja sesuai catatan yang kita buat
  • Jangan terlalu terpengaruh mode, periksa kembali lemari baju, padu padankan pakaian lama kita, tanpa harus beli yang baru
  • Belanja pakaian dengan model, motif dan warna yang netral, biar bisa di padu padankan.
  • Jangan biasakan menyimpan uang cash terlalu banyak di dompet, ini akan membuat kita merasa ”punya uang” dan kemudian membeli barang-barang yang sebetulkan tidak kita perlukan, sediakan uang secukupnya di dompet
  • Jangan biasakan ngutang… ntar jadi habit niey
  • Oh… iya jangan lupa zakatnya yah… Insya Allah kita ngak bakal kekurangan deh.
Segitu dulu deh tips-tipsnya, semoga bermanfaatemoticon

September 8, 2006

Bulan Sya’ban

Perkara-Perkara Yang Disyari’atkan

Siapa yang memasuki bulan Sya’ban sementara dia punya qadha puasa Ramadhan, wajib bagina untuk segera menggantinya jika dia mampu, tidak boleh baginya untuk menundanya hingga setelah Ramadhan berikutnya jika tidak ada halangan. Siapa yang tidak mengganti qadha puasanya hingga berakhir bulan Sya’ban maka wajib baginya bertaubat atas kelalaiannya dan dia tetap diwajibkan mengganti puasanya tersebut ditambah membayar kafarat setiap hari yang ditinggalkan dengan memberikan kepada orang miskin satu mud beras (atau makanan pokok lainnya).

Disunnahkan untuk memperbanyak shaum (puasa) pada bulan Sya’ban, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dahulu selalu melakukannya. Dalam kitab As-Shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim) terdapat hadits ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata: ‘Aku belum pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyempurnakan shaum selama satu bulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan, dan aku belum pernah melihat beliau memperbanyak shaum dalam satu bulan kecuali pada bulan Sya’ban.’ Hikmah diperintahkannya untuk memperbanyak shaum pada bulan Sya’ban ‘wallahu a’lam- adalah sebagai pembukaan bagi bulan Ramadhan yang diwajibkan shaum padanya, agar terlatih untuk melakukan shaum pada bulan tersebut

Tidak boleh menyambung shaum pada bulan Sya’ban hingga bulan Ramdhan.

Sehari atau dua hari terakhir pada bulan Sya’ban harus dihentikan, kecuali jika pada hari itu berbarengan dengan hari biasa dia melakukan shaum padanya, seperti hari Senin atau Kamis, maka dia boleh melakukannya. Terdapat dalam kitab Ash-Shahihain dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam beliau bersabda: ‘Jangan kalian dahulukan Ramadhan dengan shaum sehari atau dua hari, kecuali (pada hari) yang dia (biasa) shaum, maka shaumlah.’ Para ulama menyebutkan hikmahnya dalam masalah ini yaitu: ‘Agar puasa bulan Ramadhan tidak ditambah dengan puasa selainnya sebagaimana untuk tujuan yang sama dilarang shaum pada hari raya (hari ‘Ied). Begitu juga ‘ hikmah yang lainnya ‘ sebagaimana diketahui bahwa antara perbuatan sunnah (nafl) dan perbuatan wajib (fardhu) hendaknya ada pemisah (jeda) waktu pelaksanaannya, sebagaimana antara shalat nafilah (sunnah) dan shalat fardhu.’

Perkara-Perkara Yang Tidak Disyari’atkan

Mengkhususkan hari dan malam Nisfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban) dengan melakukan shaum dan shalat, semua perbuatan tersebut tidak ada riwayat yang shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, juga dari para sahabatnya. Hal tersebut merupakan perkara yang diada-adakan.

Terdapat hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Sunan-nya, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: ‘Jika datang malam Nisfu Sya’ban maka beribadahlah pada malam harinya dan puasalah pada siang harinya, sesungguhnya Allah Ta’ala turun pada hari itu saat matahari terbenam di langit dunia seraya berfirman: ‘Siapa yang meminta ampun akan Aku ampuni, siapa yang minta rizki akan Aku beri rizki, siapa yang sakit akan Aku sembuhkan.’

Hadits ini dilemahkan oleh Imam Bukhari dan lainnya. Adapun mengenai keutamaan malam nisfu Sya’ban, maka berkatalah Al-hafidz Ibn Rajab Rahimahullah: ‘Mengenai keutamaan malam nisfu Sya’ban terdapat sejumlah hadits yang diperselisihkan kedudukannya, sebagian besar ulama melemahkannya, sedangkan Ibnu Hibban menyatakan shahih sebagiannya dan menempatkannya dalam kitab Shahihnya.’ (Latha’iful Ma’arif: 143). Perlu diketahui bahwa Ibnu Hibban dikenal oleh ulama hadits sebagai orang yang menggampangkan dalam men-shahihkan hadits.

Di sebagian tafsir disebutkan bahwa: Malam mulia yang padanya diturunkan Al-Qur’an yang termasuk dalam firman Allah Ta’ala: ‘inna anzalnahu fi lailatil qadr’ adalah malam Nisfu Sya’ban. Pendapat ini keliru dan menyimpang dari kandungan Al-Qur’an itu sendiri, dan para ulama telah membantahnya. Al-Qurthubi seraya mengutip Abu Bakar bin Arabi berkata dalam tafsirnya: ‘Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa malam tersebut (maksudnya Lailatul qadar) terjadi pada malam Nisfu Sya’ban, itu adalah pendapat yang keliru, karena Allah Ta’ala tatkala berfirman dalam kitab-Nya (syahru romadhonalladzi unzila fihilqur’an) menjelaskan bahwa waktu turunnya Al-Qur’an adalah pada bulan Ramadhan dan kemudian menetapkan waktu malamnya dalam ayat ini: (fi lailati mubarokah) maka siapa yang menyangka bahwa hal tersebut terjadi pada waktu selainnya maka itu merupakan dusta yang sangat besar terhadap Allah Ta’ala.’

August 29, 2006

Iseng

Kemaren iseng ngobrol ma P’ De, beliau bilang manusia itu sering tidak terima bila dikritik secara angsung, senengnya pke basa-basi. Padahal ibarat cermin, cermin selalu mengoreksi kekurangan kita, tanpa cermin, kita ngak akan tau apa yang kurang dari kita. Seperti itu pula kita, kita ngak akan tau kekurangan kita tanpa ada orang lain yang mengingatkan.

Contoh basa-basi atau unggah-ungguh, bila ada gelas yang diisi air setengah, kita cenderung mengatakan klo gelas itu "terisi setengah" dari pada "kosong setengah". Benar tidak…???? jawab ndiri ya..

Seperti kata UJ (Ustad Jefri) dalam salah satu ceramahnya, mata kita diletakkan oleh Allah di depan, untuk melihat ke depan, bukan untuk ke belakang, hanya sekali-kali saja kita melihat ke belakang. Artinya kita harus melihat ke depan, tapi tidak berati kita tidak melihat ke masa lalu, justru kita lihat masa lalu untuk menghindari kesalahan di masa lalu.